Wilujengan Kenduri Agung Songsong Malam Hari Jadi Ke-530 Kabupaten Ponorogo

Redaksi | News
oleh

Ponorogo.kliksurabaya.co.id – DOA-DOA kerap bergema di lingkup Pendopo Agung bersamaan rangkaian perayaan Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo. Selamatan dengan nama Wilujengan Kenduri Agung juga dihelat di pendapa yang berada satu kompleks dengan Pringgitan (rumah dinas bupati) dan Graha Krida Praja itu.

Hidangan melimpah tatkala ratusan orang duduk bersila melingkar di pendapa, Senin (10/8/2026) malam, untuk berkenduri. Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengartikan Wilujengan Kenduri Agung sebagai tradisi berkumpul, berdoa bersama, dan makan bersama.

“Cara mengungkapkan rasa syukur memperingati peristiwa penting berdirinya Kabupaten Ponorogo. Kita senantiasa memohon keselamatan dan berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa,” terangnya sembari mengaku sengaja memilih waktu kenduri malam sebelum tanggal 11 Agustus.

Menurut Bunda Lis –sapaan Lisdyarita, umur Kabupaten Ponorogo yang sudah 530 tahun bukan sekadar angka. Di sebalik perjalanan waktu ratusan tahun itu, tersimpan sejarah dan perjuangan sehingga lahir warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat. “Mari sejenak mengenang jasa para leluhur yang telah berjuang mewariskan peradaban bagi Ponorogo,” ajaknya.

Bunda Lis memahami sejarah penting agar masyarakat tidak kehilangan arah dalam menentukan masa depan daerah. Pantangan bagi siapapun melupakan sejarah. Karena itu, peringatan Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo mengusung tema “Sekar Kinanthi Wening Daya”.

“Membangun Ponorogo yang maju, kreatif, berdaya saing, namun tetap berakar kuat pada budaya. Jangan sampai pembangunan membuat Ponorogo tercerabut dari identitasnya,” tegas Bunda Lis.

Dia berharap generasi penerus kelak memandang Ponorogo dengan warisan budayanya sebagai sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Kebesarhatian itu mulai terlihat dari beragam agenda kebudayaan dan pariwisata yang digelar di Ponorogo. Pihaknya menyadari membangun daerah yang maju sekaligus mempertahankan budayanya butuh keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. “Perjuangan ke sana tidak bisa dilakukan sendiri. Kita semua perlu bergandengan tangan, ngawiji sareng-sareng membangun Ponorogo,” tegasnya.

Dalam Wilujengan Kenduri Agung, Bunda Lis menerima amanah berupa Tombak Kiai Rekso Luhur serta sebuah lukisan karya seniman Ponorogo.