Bedhol dan Kirab Pusaka Grebeg Suro 2026 Lebih Meriah, Libatkan 1.100 Bregada dan 42 Sekolah

Redaksi | News
oleh

PROSESI Bedhol Pusaka dan Kirab Pusaka Lintasan Sejarah mendapat perhatian khusus panitia besar Grebeg Suro 2026. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi memimpin rapat untuk mematangkan dua side event wajib di Grebeg Suro itu, Selasa (2/6/2026).

Judha menyebut Bedhol Pusaka dan Kirab Pusaka menyambut datangnya 1 Muharam 1448 Hijriah bakal berlangsung lebih meriah. Sebanyak 1.100 bregada (prajurit) dari Paguyuban Kawulo Keraton Surakarta (Pakasa) Gebang Tinatar Ponorogo terlibat dalam prosesi bedhol serta kirab. “Iring-iringan peserta Kirab Pusaka Lintasan Sejarah juga lebih panjang karena 42 sekolah ikut serta. Ini melengkapi iring-iringan kereta jajaran forkopimda, para kepala perangkat daerah, dan 21 camat,” kata Judha.

Menurut dia, menggelar event yang melibatkan banyak peserta dan konsentrasi massa dalam jumlah besar butuh persiapan matang. Panitia perlu mengantisipasi banyak hal teknis, terutama potensi penumpukan massa di sejumlah titik lintasan. “Koordinasi lintas pihak menjadi penting agar pelaksanaannya berjalan lancar, aman, dan tepat waktu,” terangnya.

Judha memastikan 30 side event (rangkaian kegiatan) di Grebeg Suro 2026 sudah siap gelar. Namun, pihaknya merasa perlu membahas khusus sejumlah event yang melibatkan lintas sektor. “Sebanyak 30 side event sudah siap dilaksanakan. Grebeg Suro 2026 akan lebih semarak,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Pakasa Gebang Tinatar Gendut Krisdiantoro menyampaikan bahwa prosesi Bedhol Pusaka akan diawali pembacaan macapat. Ratusan bregada dan korsik korps musik (korsik) dari prajurit Kasunanan Surakarta tetap menjadi bagian dari prosesi. Gendut berencana mengundang perwakilan Pakasa Pati, Kudus, dan Pakasa Karanganyar. “Prosesi Bedhol dan Kirab Pusaka tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Kata Gendut, Bedhol Pusaka dan Kirab Pusaka Lintasan Sejarah sejatinya mereka ulang perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari Kota Lama ke Kota Tengah. Para bregada mengarak Tumbak Kyai Tunggul Nogo, Angkin Cindhe Puspito, dan Songsong Kyai Tunggul Wulung saat bedhol dari Pringgitan. Tiga pusaka Ponorogo itu diinapkan di Pendapa Astana Katong sebelum dikirab pulang kembali ke Pringgitan.