Festival Pencak Silat Berpadu dengan Fragmen Reog dan Sosok Warok Ponorogo

Redaksi | News
oleh

SIDE event baru yang membuat Grebeg Suro 2026 lebih berwarna. Yakni, Festival Pencak Silat Beregu Terbuka “Jawara Bhumi Warok Ponorogo.” Sebanyak 15 kontingen dari unsur sekolah, komunitas, dan sanggar seni ikut meramaikan festival yang berlangsung di panggung depan Paseban Alun-Alun Ponorogo itu, Sabtu (30/5/2026).

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi berharap Jawara Bhumi Warok menjadi agenda rutin Grebeg Suro saban tahun. Bahkan, menyusul Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) yang tergelar puluhan kali.

“Festival pencak silat di Ponorogo memiliki nilai lebih karena memadukan dengan seni fragmen reog. Beberapa peserta juga berasal dari luar daerah,” kata Judha.

Dia menegaskan bahwa  nilai-nilai filosofi Warok Ponorogo selaras pula dengan seni pencak silat. Kata Judha, warok adalah sosok yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, bersifat ksatria, dan berbudi pekerti luhur. “Warok sudah menjadi identitas masyarakat Ponorogo. Sosok warok tidak hanya sebagai tokoh budaya, tetapi sekaligus teladan karena memiliki karakter adiluhung,” terangnya.

Sementara itu,  Wahid Purwanto, ketua panitia Festival Pencak Silat Beregu Terbuka “Jawara Bhumi Warok Ponorogo” menyebut eventnya sebagai ruang pembinaan karakter, penguatan persaudaraan, sekaligus media pelestarian budaya lokal. Dia sepakat perpaduan dengan fragmen reog dan sosok warok menjadi nilai plus. “Pelestarian nilai-nilai luhur budaya yang berpadu dengan spirit keberanian, kehormatan, dan jiwa kesatria khas Warok Ponorogo. Komplet sudah dalam sebuah festival pencak silat,” ungkapnya.

Menurut dia, seluruh peserta sudah melewati seleksi panitia. Penilaian dilakukan oleh tiga dewan juri yang terdiri dari seorang dari ahli pencak silat dan dua lainnha dari kalangan seniman. “Kami berharap lahir atlet-atlet pencak silat berprestasi yang mampu membawa nama baik Ponorogo. Festival ini juga  menjadi sarana penguatan sektor budaya dan pariwisata berbasis kearifan lokal,” pungkas Wahid.