STATUSNYA boleh darurat. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Ponorogo (BPBD) Kabupaten Ponorogo tidak ingin tanggung dalam membangun jembatan sementara di Dukuh Sumberejo Desa Munggu Kecamatan Bungkal yang runtuh terdampak banjir pada medio Maret lalu. Apalagi, titian di atas sungai itu menjadi akses mobilitas 400 jiwa yang tinggal di empat rukun tetangga (RT).
‘’Secara kualitas (jembatan darurat) lebih bagus dibandingkan jembatan lama,’’ kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Ponorogo Masun, Kamis (8/5/2025). Dia merinci konstruksi jembatan darurat menggunakan besi wide flange (WF) ukuran 400. Lebih lebar dibandingkan jembatan lama yang hanya ditopang besi WF 300. Selain itu bentang jembatan kini menjadi 15 meter yang hampir dua lipat dari jembatan lama. ‘’Lebarnya tiga meter, secara hitung-hitungan konstruksi sudah menjamin kekuatan dan stabilitas,’’ imbuh Masun.
Mantan kepala dinas pertanian itu menegaskan, pembangunan jembatan darurat di Desa Munggu bertujuan mengembalikan tatanan lehidupan masyarakat yang sempat terganggu. Terjangan air bah yang merontokkan jembatan lama merupakan peristiwa tanpa tersangka-sangka yang memerlukan penanggulangan segera. ‘’Kita putuskan pembangunan jembatan sementara dengan skema darurat mengikuti pernyataan status bencana,’’ tegasnya.
Sementara itu, Bupati Sugiri Sancoko saat peresmian, Selasa (6/5/2025), mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan darurat di Desa Munggu adalah bukti kepedulian yang tinggi dari sejumlah pihak. Hanya butuh waktu pengerjaan efektif selama 22 hari setelah surat perintah kerja terbit 27 Maret 2025 (10 hari pasca bencana) hingga kelar pada akhir April. ‘’Atas kerja serentak, kerja keroyokan, kerja taktis, dan kerja gercep (gerak cepat) yang kita lakukan bareng-bareng,’’ ungkap Kang Giri.
Bupati Ponorogo dua periode itu mengakui masih harus melakukan rehabilitasi sejumlah infratruktur yang rusak akibat bencana banjir beberapa waktu lalu. Di antaranya, jembatan di Desa Grogol Kecamatan Sawoo. Kang Giri menginginkan perbaikan segera agar aktivitas masyarakat kembali normal. ‘’Roda perekonomian berputar lebih cepat lagi, bisa mengangkut hasil pertanian dengan lancar dan anak-anak nyaman saat berangkat serta pulang sekolah,’’ harapnya.
Terpisah, Kepala Desa Munggu Sukamto mengibaratkan runtuhnya jembatan di Dukuh Sumberejo layaknya seri televisi ‘’Sengsara Membawa Nikmat’’ yang tayang di TVRI pada era 1990-an. Sebab, Pemkab Ponorogo membangun jembatan darurat yang memiliki kekuatan dan stabilitas lebih. Selain itu, kali pertama dalam sejarah Dukuh Sumberejo dikunjungi bupati Ponorogo. Tak pelak, kedatangan Kang Giri dielu-elukan masyarakat setempat. ‘’Ini bukti perhatian pemimpin daerah terhadap masyarakatnya,’’ ujar Sukamto.








