ASA Ponorogo meraih predikat Swasti Saba Wistara, kasta tertinggi penghargaan Kabupaten/Kota Sehat (KKS) belum pupus. Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita memimpin langsung rapat persiapan menyongsong ajang penghargaan pada 2027 mendatang itu dengan mengundang seluruh perangkat daerah dan forum KKS.
“Keberhasilan meraih predikat Wistara sangat bergantung pada komitmen bersama pihak yang terlibat. Seluruh perangkat daerah dan forum KKS harus bergerak dalam satu tujuan tanpa ego sektoral,” tegas Bunda Lis –sapaan Lisdyarita– saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan Pembinaan Kabupaten/Kota Sehat Tahun 2026, Jumat (8/5/2026), di Ruang Bantarangin.
Bunda Lis meminta seluruh perangkat daerah terkait untuk aktif membantu forum KKS dalam memenuhi kebutuhan data dan dokumen penilaian. Bahkan, dia membuka ruang koordinasi langsung jika muncul hambatan di lapangan agar proses percepatan dapat berjalan optimal. “Kalau memang ada kesulitan, saya yang akan langsung menghubungi OPD-nya. Intinya hanya komitmen, bareng-bareng, bersatu untuk menuju Kabupaten Ponorogo yang sehat,” tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Ponorogo Agus Sugiarto menyebut upaya meraih Swasti Saba Wistara sejatinya tinggal setahap lagi. Sebab, Kabupaten Ponorogo sudah berhasil mendapatkan penghargaan Swasti Saba Wiwerda pada KKS 2025 lalu. “Terdapat sejumlah indikator yang masih kurang, namun berpotensi untuk ditingkatkan tahun ini,” ungkap Ugin –sapaan Sekda Agus Sugiarto.
Jika hendak meraih kategori Wistara, imbuh dia, seluruh tatanan sehat yang ada harus meraih nilai minimal 95. Terdapat sembilan tatanan yang diampu oleh masing-masing koordinator forum KKS. Yakni, kehidupan masyarakat sehat mandiri; permukiman dan fasilitas umum; satuan pendidikan; pasar, perkantoran dan perindustrian; pariwisata; transportasi dan tertib lalu lintas jalan; perlindungan sosial; serta penanggulangan bencana. “Penilaian KKS tidak hanya berdasarkan dokumen, tetapi juga hasil verifikasi lapangan,” terangnya.
Karena itu, Ugin meminta seluruh perangkat dearah segera melakukan percepatan pemenuhan indikator terutama pada tatanan yang masih memiliki nilai rendah. “Dari evaluasi tahun kemarin, beberapa yang masih kurang antara lain kehidupan masyarakat sehat mandiri, permukiman, pasar, dan penanggulangan bencana. Kehidupan masyarakat sehat mandiri tahun kemarin masih di angka 81,9,” jelasnya.
Dia juga mengingatkan kelengkapan dokumen di tatanan penanggulangan bencana karena November mendatang sudah masuk penilaian. Pun, keberhasilan meraih Wistara membutuhkan kerja bersama seluruh pihak. Koordinasi lintas sektor harus terus diperkuat agar seluruh indikator dapat dipenuhi tepat waktu. “Tinggal selangkah lagi, tidak perlu melompat, tinggal melangkah. Kuncinya ada tiga, yaitu komitmen, koordinasi, dan kolaborasi,” tandasnya sembari menyebut Swasti Saba adalah predikat bergengsi yang diperebutkan 416 kabupaten dan 98 kota se-Indonesia.
